Seringkali para Da’i, Khotib, Ustadz serta
penceramah menyebutkan hadits ini di dalam bulan Ramadhan. Tujuannya untuk
memotivasi kaum Muslimin di bulan suci ini. Ungkapan “tidur di siang hari pada
bulan Ramadhan adalah ibadah” itu sudah demikian luas diketahui oleh banyak
orang dan disampaikan secara terus-menerus setiap menyambut Ramadhan dan dalam
bulan Ramadhan.
Betapa pentingnya mengenai permasalahan ini
membuat seorang ulama ahli hadits Indonesia, KH. Musthofa Ali Ya’kub menulis
secara khusus sebuah buku yang berjudul ”Hadits-hadits Palsu Seputar Ramadhan”.
Setelah dilakukan pengkajian ternyata hadits yang mengungkapkan hal itu
bukanlah hadits yang tercantum dalam kitab-kitab hadits populer. Hadits itu
diriwayatkan oleh Imam Al Baihaki dalam Kitab Syu’ab al Iman, kemudian dinukil
oleh Imam As Suyuti dalam kitab Al Jami’ al Saghir.
Bunyi hadits itu adalah: ”Tidurnya orang yang
berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan, doanya
dikabulkan dan doanya diampuni” (Jami’ Al Saghir, karya Imam As Suyuti, juz
II/678)
Menurut Imam Al Baihaki, di dalam sanad hadits
itu terdapat nama-nama seperti Ma’ruf bin Hasan, seorang rawi yang dha’if dan
Sulaiman bin Amr al Nakha’i, seorang rawi yang lebih dhaif dari pada Ma’ruf.
Bahkan menurut Al Hafizh Al Iraqi, Sulaiman adalah seorang pendusta.
Demikianlah perkataan Imam Al Baihaki sebagaimana dikutip oleh Al Minawi dalam
Kitab Faidhul Qadir Juz VI/291.
Al Minawi sendiri kemudian menyebutkan beberapa
nama rawi yang terdapat dalam sanad hadis di atas, yaitu Abdul Malik bin Umair,
seorang yang dinilai sangat dha’if. Rawi yang paling parah adalah Sulaiman bin
Amr al Nakha’, karena menurut para ahli hadits dia adalah pendusta dan pemalsu
hadits.
Demikian merupakan pendapat Imam Ahmad bin
Hanbal, Yahya bin Ma’in, Imam Bukhari dan Yazid bin Harun. (lihat Mustofa Ali
Ya’kub, Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadhan, hal. 42)
Sementara itu menurut Ibnu Hibban, Sulaiman bin
Amr al Nakha’i adalah orang Baghdad, yang secara lahiriyah adalah orang shalih
tetapi ia memalsu hadis. Imam Al Hakim yakin secara pasti bahwa Sulaiman Al
Nakha’i adalah pemalsu hadis. Jadi, tidak diragukan lagi bahwa status hadis di
atas adalah Palsu (mawdhu’). Hadis palsu jelas tidak bisa dijadikan sebagai
hujah (dalil).
Dengan demikian tidurnya orang yang berpuasa
bukanlah ibadah karena hadits itu tidak benar berasal dari Rasulullah Saw.
Meningkatkan kuantitas dan kualitas Amal Ibadah
Bagi setiap muslim, Ramadhan adalah bulan
ibadah. Bulan yang didalamnya diperintahkan untuk berpuasa, shalat tarawih,
membaca al Qur’an, bersedekah, iti’kaf pada sepuluh hari terakhirnya. Berbagai
amal-amal ketaatan diperintahkan untuk dilakukan di bulan Ramadhan ini sebagai
sebab untuk mendapatkan surga Allah yang pintu-pintunya dibuka khusus di bulan
ini dan hendaklah menjauhi berbagai pelanggaran dan kemaksiatan yang dapat
mendorongnya kedalam neraka.
Untuk itu hendaklah setiap muslim bersabar di
dalam melaksanakan amal-amal tersebut menjadikan waktu-waktunya penuh dengannya
dan menyedikitkan waktu tidurnya.
Tidur untuk menghilangkan penat tidak dilarang,
malah baik untuk memulihkan kondisi. Tetapi tidaklah dibenarkan seorang yang
berpuasa hanya menghabiskan sepanjang siangnya dengan tidur meskipun hal ini
tidaklah diharamkan selama dirinya masih menunaikan kewajiban-kewajiban shalat
pada waktu-waktunya.
Tidak banyak kebaikan dan keberkahan yang bisa
diraih oleh orang yang mengisi waktunya hanya dengan tidur saja karena dirinya
telah kehilangan banyak kesempatan beribadah.
Jadi jangan sia-siakan waktu kita di bulan
Ramadhan hanya dengan memperbanyak tidur.
Banyak aktifitas yang bisa dikerjakan seperti
mengikuti kuliah zuhur di masjid-masjid raya dan perkantoran. Silakan pilih
masjid yang dirasakan berkenan.
Membaca Qur’an diwaktu senggang, kalau tidak
bisa baca, dengarkan MP 3 nya. Pahami maknanya dan amalkan. Kunjungi toko buku
dan beli serta baca buku yang dapat meningkatkan pengetahuan keagamaan kita,
atau motivasi Islami. Untuk melembutkan hati dan mengasah nurani, sering-sering
mengunjungi fakir miskin dan menyantuni.
Jadikan Ramadhan sebagai golden moment menata
diri, meningkatkan kualitas ibadah dan amal soleh, kualitas rumah tangga,
mempererat silaturahim. Jangan sampai kita menjadi insan yang merugi karena di
bulan Ramadhan hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Ter...la...lu....
Materi Talkshow Ramadhan di RRI Pro 2, 105 FM
Jakarta, 25 Juli 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar