Senin, 29 Juli 2013

SENI RUPA KELAS XII IPA-IPS SMA

Aliran dalam Seni Lukis Modern


1.Naturalisme

Naturalisme di dalam seni rupa adalah usaha menampilkan objek realistis dengan penekanan seting alam. Hal ini merupakan pendalaman labih lanjut dari gerakan Realisme pada abad 19 sebagai reaksi atas kemapanan Romantisme.dan aliran ini mirip dengan fotografi.
Tokoh:  -   Basuki Abdullah   –  Rudolf Bonnet - R.M Pirmadi   –  Lemayeur -  Umar Basalamah –  Locatelli -   Rustamaji

 http://suduttumpul.files.wordpress.com/2011/12/la8h0007a35n.jpg?w=300&h=237

Realisme,di dalam Seni Rupa berarti usaha menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau interpretasi tertentu. Maknanya bisa pula mengacu kepada usaha dalam seni rupa unruk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang buruk sekalipun.Perupa realis selalu berusaha menampilkan kehidupan sehari-hari dari karakter, suasana, dilema, dan objek, untuk mencapai tujuan Verisimilitude (sangat hidup). Perupa realis cenderung mengabaikan drama-drama teatrikal, subjek-subjek yang tampil dalam ruang yang terlalu luas, dan bentuk-bentuk klasik lainnya yang telah lebih dahulu populer saat itu.
Tokoh: Dullah -  Trubus -  Tarmizi -  Sujoyono -  Agus Jaya Suminta  -  Suromo

2. Realisme
http://suduttumpul.files.wordpress.com/2011/12/543.jpg?w=283&h=226
               

Romantisme,Merupakan aliran tertua di dalam sejarah seni lukis modern Indonesia. Lukisan dengan aliran ini berusaha membangkitkan kenangan romantis dan keindahan di setiap objeknya.melukiskan objek yang menyangkut perilaku kehidupan, tentang perjuangan, tragedi, cinta kasih. Pemandangan alam adalah objek yang sering diambil sebagai latar belakang lukisan.Romantisme dirintis oleh pelukis-pelukis pada zaman penjajahan Belanda dan ditularkan kepada pelukis pribumi untuk tujuan koleksi dan galeri di zaman kolonia
Tokoh:  Theobore Gerricault  - Raden Saleh

3.Romantisme
  http://suduttumpul.files.wordpress.com/2011/12/raft_of_the_medusa.jpg?w=300&h=202
          

            Surrelisme Lukisan dengan aliran ini kebanyakan menyerupai bentuk-bentuk yang sering ditemui di dalam mimpi. Pelukis berusaha untuk mengabaikan bentuk secara keseluruhan kemudian mengolah setiap bagian tertentu dari objek untuk menghasilkan sensasi tertentu yang bisa dirasakan manusia tanpa harus mengerti bentuk aslinya.melukiskan suasana yang mencekam lengang menakutkan serta hal-hal yang fantastis.
Tokoh:  Salvador dalli, Ifan Sagita

4.Surrealisme
http://suduttumpul.files.wordpress.com/2011/12/surealisme_zademack.jpg?w=645


Impresionisme,Berusaha menampilkan kesan yang di tangkap dari objek .berdasarkan kesan cahaya. Yang menjadi masalah dalam hal teknik adalah Sebagian kaum impresionis sangat mementingkan warna yang di timbulkan oleh bias cahaya,hasilnya berupa gambar yang tampak melebur cerah.
Tokoh: Claude monet

5. Impresiolisme
http://suduttumpul.files.wordpress.com/2011/12/lukisan-terkenal-didunia-unikboss-claude-monet-4.jpg?w=300&h=225

6.  Ekspresiesme

Ekspresiesme,Berusaha menampilkan emosional atau sensasi dari dalam di hubungkan dengan tragedi atau apa yang terjadi. kecenderungan seorang seniman untuk mendistorsi kenyataan dengan efek-efek emosional.Melukis berdasarkan luapan emosi dengan wujud coretan,garis atau sapuan warna secara spontan.
Tokoh: Vincent van gogh,  Affandi, Rusli, Sri Hardi Sudarsono
http://suduttumpul.files.wordpress.com/2011/12/van-gohg-9.jpg?w=300&h=230





Kubisme,Adalah aliran yang cenderung melakukan usaha abstraksi terhadap objek ke dalam bentuk-bentuk geometri untuk mendapatkan sensasi tertentu. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Pablo Picasso.
Tokoh:  Pablo picasso

7.Kubisme
http://suduttumpul.files.wordpress.com/2011/12/kubisme.jpg?w=175&h=300


8. Dadaisme

     Dadaisme,Ciri khas dari karya dadaisme adalah seni yang tidak mau ilusi atau ketiadaan ilusi. Yang kemudian diungkapkan dalam bentuk main-main, secara sederhana dan kekanak-kanakan.
Tokoh:  -   Paul klee

http://suduttumpul.files.wordpress.com/2011/12/dada.jpg?w=249&h=300
9.  Futurisme

Futurisme,menggambarkan objek lukis yang terlihat seperti bergerak .Suatu objek digambarkan beberapa kali secara sama,secara perspektif.
Tokoh:  Umberto Boccioni
http://suduttumpul.files.wordpress.com/2011/12/fut.jpg?w=300&h=197


10.  Abstrak

Abstrak,adalah salah satu jenis kesenian kontemporer yang tidak menggambarkan obyek dalam dunia asli, tetapi menggunakan warna dan bentuk dalam cara non-representasional. Unsur yang dianggap mampu memberikan sensasi keberadaan objek diperkuat untuk menggantikan unsur bentuk yang dikurangi porsinya.Hasilnya berupa komposisi garis,bidang,warna dan unsur-unsur lainya.
Tokoh: Hans Hartum, Zaini,  Nashar,  Fajar Sidiq,  AhmaSadali,  Amri Yahya
http://suduttumpul.files.wordpress.com/2011/12/piet-mondrian-776973.jpg?w=300&h=211
      


11.Klasikisme/Dekoratif

       Klasikisme,Aliran ini berkembang pada abad 19 di Perancis. Ciri-ciri seni klasikisme antara lain  dibuat-buat dan berlebihan, indah dan molek,dekoratif. Aliran klasikisme mengacu pada kebudayaan Yunani Klasik dan Romawi Klasik.
Tokoh: Kartono Yudo Kusumo  
http://suduttumpul.files.wordpress.com/2011/12/klasisisme-david-horatii.jpg?w=300&h=233




 12. Pointilisme

    Pointilisme,adalah gaya melukis dengan menggunakan sentuhan titik hingga membentuk sebuah objek gambar dan jika dilihat dari jarak tertentu bias memperlihtakan lukisan yang bersifat realistik,ekspresik, dan artistik.
Tokoh: Rijaman,  Budi Hariyanto,


http://suduttumpul.files.wordpress.com/2011/12/poin.jpg?w=300&h=244

13.Kontemporer

Kontemporer adalah salah satu cabang seni yang terpengaruh dampak modernisasi. Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini; jadi seni kontemporer adalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman sekarang. Lukisan kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui.Mengutamakan kebebasan berekspresi,dinamis dan tidak terikat aturan.teknologi masa kini dipautkan dengan seni merupakan ciri khas aliran kontemporer.
Tokoh:   Sprinka,   Angelina P,  Jim Supankat,   Nyoman Nuarta

http://suduttumpul.files.wordpress.com/2011/12/lukisan-kontemporer.jpg?w=300&h=200


Seni rupa kontemporer

Seni Kontemporer adalah perkembangan seni yang terpengaruh dampak modernisasi dan digunakan sebagai istilah umum sejak istilah Contemporary Art berkembang di Barat sebagai produk seni yang dibuat sejak Perang Dunia IIIstilah ini berkembang diIndonesia seiring makin beragamnya teknik dan medium yang digunakan untuk memproduksi suatu karya senijuga karena telah terjadi suatu percampuran antara praktek dari disiplin yang berbedapilihan artistikdan pilihan presentasi karya yang tidak terikat batas-batasruang dan waktu.

Tafsiran lain mengenai praktek seni kontemporer di Indonesia:
1. Dihilangkannya sekat antara berbagai kecenderungan artistikditandai dengan meleburnya batas-batas antara seni visualteater,tarimusik.
2. Intervensi disiplin ilmu sains dan sosialterutama yang dicetuskan sebagai pengetahuan populer atau memanfaatkan teknologi mutakhir.

3. Istilah ini dianggap bisa menyertai sebutan seni visualmusiktaridan teaterMeskipun di Baratistilah Contemporary Art jamak digunakan untuk menyebut praktek seni visual sesuai kebutuhan kegiatan Museum maupun lembaga pencetus nilai seperti Galeri Seni dan Balai Lelang.

Perkembangan seni kontemporer Indonesia

Khalayak Seni visual di Indonesiamencatat istilah ini sejak awal 70-an, ketika Gregorius Sidharta memberi judul pamerannya sebagaiSeni Patung KontemporerPelaku seni lain, Gerakan Seni Rupa Baru -dimediasikan Sanento Yuliman dan Jim Supangkatberusaha menegaskan keberadaan praktek seni yang percaya dengan adanya berbagai tata acuan untuk masyarakat yang tidak tunggalBagiSanentoseni rupa modern Indonesia bukanlah lanjutan dari seni rupa tradisional.

Kesimpulan

Munculnya berbagai aliran dalam seni rupa, khususnya dalam bidang seni lukis merupakan perkembangan awal dari abad seni rupa modern. Aliran-aliran ini muncul di Eropa pada awal abad ke 19. Gerakan ini muncul sebagai dampak dari adanya revolusi industri yang menghasilkan mesin-mesin industri sebagai pengganti tenaga manusia. Kemajuan teknologi pada masa itu, terutama setelah ditemukannya kamera fotografi membuat para pelukis tersisih oleh alat (lukis modern) tersebut. Hal inilah yang memicu pelukis untuk mencari gaya/aliran agar kelebihan pelukis tetap diminati.
Perjalanan corak atau gaya seni lukis modern seakan-akan berakhir dan dilanjutkan dengan gaya seni rupa kontemporer pada abad ke-20 sekitar Perang Dunia ke-2. Pada masa ini hampir seluruh aktifitas kaum sipil terganggu, termasuk para seniman, sehingga melahirkan gaya seni yang hampir tidak memiliki wajah yang tetap/mapan. Maka gaya ini disebut dengan gaya kontemporer.

SENI RUPA KELAS XI IPA-IPS SMA

SENI BUDAYA RUPA
SMA
Kelas XI IPS/IPB
Semester Ganjil

BAB 1    APRESIASI KARYA SENI KRIYA NUSANTARA

Standar Kompetensi       :  1. Mengapresiasi karya seni kriya
Kompetensi dasar           :      1.1. Mengidentifikasi keunikan gagasan dan teknik  dalam karya seni
                                                      kriya di wilayah Nusantara.
                                                    1.2. Menampilkan sikap apresiatif terhadap  keunikan gagasan dan
                                               teknik dalam karya seni kriya di wilayah Nusantara.

             A. Pengertian
Apresiasi dapat diartikan menghargai, mengagumi atau menilai karya seni. Dalam kegiatan kesenian apresiasi sering digunakan untuk memberikan nama atau istilah yang berarti sebagai suatu kegiatan kesenian atau proses yang berorientasi kepada pengembangan sikap menghargai, mengagumi atau menilai suatu karya seni tertentu. Kegiatan tersebut bisa dilakukan di dalam ruangan berbentuk ceramah, diskusi, menyaksikan pentas seni atau pameran, dapat pulan dilakukan di luar ruangan dalam bentuk wisata mengunjungi peninggalan-peninggalan karya seni budaya di alam terbuka.
Seni kriya merupakan jenis karya seni rupa yang dibuat dengan ketrampilan khusus dan mencerminkan ciri khas kedaerahan tertentu serta mempunyai nilai guna. Nusantara adalah nama lain dari Indonesia.
Hal-hal yang perlu mendapat perhatian dalam menciptakan karya seni kriya mencerminkan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya, antara lain nilai-nilai:
1.       Estetika (nilai keindahan).
2.       Fungsi (nilai guna).
3.       Comfortable (kenyamanan).
4.       Keamanan.
5.       Ciri khas kedaerahan.
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa seni kriya memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari dalam melakukan aktifitas kehidupannya dan juga untuk memenuhi kebutuhan manusia akan keindahan. Adapun tujuan dari seni kriya antara lain untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai mahluk berbudaya.

    

           B.  Keunikan gagasan dan teknik dalam Karya Seni Kriya Nusantara
Perkembangan seni sangat dipengaruhi oleh pandangan manusia yang dinamis dalam konsep, proses dan keahlian yang beraneka ragam. Setiap masyarakat di wilayah Nusantara memiliki filosofi, pandangan hidup atau cara pandang tentang makna hidup akan mempengaruhi bentuk karya yang mereka ciptakan. Sehingga seni kriya yang dihasilkan oleh daerah-daerah di wilayah Nusantara memiliki keunikan gagasan yang beraneka ragam. Keunikan gagasan tersebut melahirkan jenis-jenis kriya yang muncul di Wilayah Nusantara. Secara garis besar kriya Nusantara terbagi menjadi dua kelompok, kriya seni dan kriya terapan.
Kriya seni adalah kriya yang diciptakan mutlak untuk kebutuhan seni (keindahannya saja yang dinikmati). Sedangkan kriya terapan adalah kriya yang diciptakan selain untuk kebutuhan keindahan juga untuk digunakan sebagai sarana dalam kegiatan sehari-hari. Kriya seni lebih bersifat modern, sedangkan kriya terapan lebih tradisional.
Sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat Nusantara yang beraneka ragam, maka teknik yang digunakan juga memiliki keunikan masing-masing. Beberapa contoh keunikan teknik dalam menciptakan kriya Nusantara antara lain:
1.       Teknik Ukir: kriya yang dibuat dengan cara mencekungkan dan mencembungkan bahan.
2.       Teknik anyam: menyusun bahan berupa pita secara tumpang tindih (susup menyusup) sehingga memmbentuk motif tertentu.
3.       Teknik Tenun: menganyam bahan yang berbentuk tali/benang.
4.       Teknik cor: dengan cara mencetak bahan yang bersifat cair.
5.       Teknik batik: menggambar di atas kain dengan alat canting bertinta lilin cair, kemudian diwarnai dengan cara mencelupkannya ke dalam cairan pewarna.
6.       Teknik banun: kombinasi batik dengan tenun.

            C.      Apresiasi terhadap Keunikan Gagasan dan Teknik Seni Kriya Nusantara
Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa Nusantara memiliki keaneka ragaman dalam kehidupan masyarakatnya. Keanekaragaman tersebut mempengaruhi gagasan dan teknik dalam berkarya kriya. Maka untuk dapat mengapresiasi karya seni kriya Nusantara kita harus mengenal latar belakang kehidupan masyarakatnya. Untuk itu kita harus mengetahui data dari karya seni kriya tentang kapan diciptakan, filosofi apa yang mempengaruhi dan sejauh mana tingkat teknologi pada masa itu.
Dalam wilayah Nusantara sangat banyak peninggalan-peninggalah seni kriya yang tersimpan di Museum, bahkan sudah dilengkapi data tersebut. Dengan cara mengamati benda-benda tersebut kita dapat mengapresiasi karya-karya seni kriya Nusantara.

D.      Daerah Penghasil Seni Kriya Nusantara
Daerah-daerah di Indonesia yang terkenal menghasilkan seni kriya antara lain:
1.         Kriya Perak : Yogyakarta (Kotagede), Kendari, Bali.
2.         Batik: Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Bali, Cirebon.
3.         Tikar Anyam: Tasikmalaya, Tangerang.
4.         Ukir kayu: Jepara, Yogyakarta, Bali.

E.       Tugas Mandiri
1.       Tugas mandiri terstruktur (dikerjakan di ruang kelas pada jam belajar)
a.       Buatlah kelompok, tiap kelompok 4 siswa.
b.      Siapkan kertas selembar.
c.       Amati gambar karya kriya Nusantara berikut.
d.      Diskuskan di dalam kelompok masing-masing.
e.      Buatlah laporan tertulis yang berisi:
(1)    Nama karya
(2)    Dibuat pada tahun berapa atau zaman apa.
(3)    Gagasan atau ide dasarnya apa/bersifat apa.
(4)    Fungsinya untuk apa.
(5)    Tekniknya apa.
(6)    Alat yang dan bahannya apa

2.       Tugas mandiri tak terstruktur (dikerjakan di luar jam belajar)
1.       Kunjungan ke Museum Tekstil
a.       Adakan kunjungan ke Museum Tekstil secara berkelompok (maksimal 6 orang)
b.      Catatlah benda-benda koleksi yang ada di sana. Tanyakan kepada petugas bila perlu.
c.       Buatlah foto dari benda-benda tersebut secukupnya.
d.      Buatlah laporan tertulis yang berisi hasil kunjungan.
e.      Ketentuan Laporan tertulis:
1)      Halaman sampul ditulis judul:
LAPORAN KUNJUNGAN
MUSEUM TEKSTIL JAKARTA

Tugas Kelompok
Oleh:
1.        ………………
2.        ………………
3.        ………………
Kelas: XI …….
SMA NEGERI 96 JAKARTA
2013-2014
Bagian  1, Kata Pengantar
             2, Foto Siswa di dengan back ground Koleksi/benda Museum
             3, Isi : uraian yang menceritakan isi museum dengan disertai contoh foto 
                 benda koleksi. Boleh ditampilkan gambar denahnya.
             4, Kesimpulan/penutup.

2.       Kliping
a.       Buatlah kliping secara kelompok (maksimal 4 siswa) yang berisi gambar-gambar karya seni Kriya Nusantara (minimal 10 gambar berukuran A4 dengan ketentuan sebagai berikut:
(1)    Gambar dapat diambil dari internet, hasil memfoto sendiri, majalah atau media cetak lainnya.
(2)    Di bawah gambar ditulis (ketik) Nama karya, daerah asal (wilayah Nusantara), fungsinya untuk apa (kriya murni atau kriya terapan)
(3)    Kliping dijilid dan di bagian sampul ditulis :

KLIPING
KARYA KARYA SENI KRIYA NUSANTARA

Tugas Kelompok
Oleh:
1.        ………………
2.        ………………
3.        ………………
Kelas: XI …….
SMA NEGERI 96 JAKARTA
2013-2014

BAB 2    BERKARYA SENI KRIYA DENGAN TEKNIK DAN CORAK NUSANTARA
Standar Kompetensi       2. Mengekspresikan diri melalui karya seni kriya
Kompetensi dasar           :    2. 1 Merancang karya seni kriya dengan memanfaatkan teknik
                                                    dan corak di wilayah Nusantara.                                                          
     2.2.   Membuat karya seni kriya dengan memanfaatkan teknik dan
              corak di wilayah Nusantara.
     2.3.   Menyiapkan karya seni kriya buatan sendiri untuk pameran di
              kelas atau di sekolah.
     2.4.   Menata karya seni kriya buatan sendiri dalam bentuk
          pameran di kelas atau di sekolah.

A.       Merancang Kriya Batik Nusantara
Batik merupakan salah satu seni kriya yang berkembang di wilayah Nusantara. Bahkan sekarang Kriya batik telah mendapat pengakuan dunia yaitu telah tercatat di UNESCO bahwa batik  merupakan hasil karya budaya bangsa Indonesia. Pemerintah pun telah menetapkan hari batik Nasional dan siswa, guru maupun karyawan telah diwajibkan mengenakan batik pada hari-hari tertentu.
Kegiatan merancang batik disebut juga mendesain motif batik. Bagi para pemula (siswa) kegiatan merancang motif batik dapat dilakukan dengan metoda yang ringan yaitu memodifikasi atau mencontoh motif batik yang sudah ada kemudian disederhanakan.
1.      Tugas mandiri terstruktur individual.
Buatlah rancangan motif batik dengan metoda modifikasi.
Dibuat di atas kertas gambar A3 dengan bahan pewarna cat air.
Waktu: 3 x 2 jam pelajaran.
2.      Tugas mandiri tak terstruktur (kelompok)
Buatlah kliping tentang gambar motif batik Nusantara (minimal lima macam).
Setiap gambar dijelaskan mengenai nama motif, daerah asal dan sumber gambar.
Sumber gambar dapat diambil dari media cetak atau internet.
B.       Membuat Kriya Batik dengan Corak Nusantara
Media (bahan dan alat) yang diperlukan dalam membuat kriya batik antara lain:
Bahan:  Kain mori (katun)                             Alat :      Canting
            Lilin batik (malam)                                           Kompor
            Bahan pewarna                                               Wadah
            Air                                                                  Ring/Pemidangan
Bahan-bahan lain                                             Alat-alat lain

           Dalam proses membatik dilakukan beberapa tahap sebagai berikut:


1.        Tahap rancangan (desain)
Langkah-langkah:
a.    Gambar motif dibuat di atas kertas dengan tinta hitam
b.    Gambar motif dipindahkan ke atas kain dengan teknik jiplak menggunakan pensil. Bagi yang sudah mahir, gambar motif dapat dibuat langsung di atas kain menggunakan pensil.
2.         Tahap penerapan lilin batik (malam)
Penerapan lilin di atas kain dilakukan dengan menggunakan alat tulis untuk membatik yang disebut canting yang berisi lilin cair sebagai tintanya.
Langkah-langkah:
a.     Bentangkan kain yang telah bermotif.
b.    Terapkan lilin mengikuti motif yang ada pada kain.
c.  Tentukan bagian-bagian motif yang akan diblok (ditutup dengan lilin), kemudian lakukan pengeblokan.
d.   Lakukan pengisian motif atau bagian luar motif yang masih terlihat kosong dengan titik-titik, garis-garis atau bentuk-bentuk lain.
3.      Tahap pewarnaan (pencelupan)
Langkah-langkah:
a.     Siapkan cairan warna di suatu wadah
b.    Celupkan kain ke dalam larutan warna, secara berulang-ulang sampai tingkatan warna yang diharapkan tercapai.
c.     Keringkan kain di tempat teduh.
4.       Tahap pelepasan lilin (Jw. Nglorod)
Langkah-langkah:
 a.       Siapkan air dalam keadaan mendidih di atas kompor.
 b.      Maukkan kain ke dalam air mendidih sambil diaduk-aduk.
 c.       Lakukan terus hingga lilin-lilin yang menempel pada kain terlepas.
 d.      Angkan kain dan keringkan di tempat teduh.
Setelah kering, maka selesailah proses membuat batik.
  

            C.  Menyiapkan karya seni kriya buatan sendiri untuk pameran di kelas atau di sekolah
Pameran merupakan kegiatan menyajikan karya seni hasil karya sendiri. Sebagai pembelajaran kegiatan ini dapat di lakukan di kelas atau di sekolah pada acara sekitar pembagian raport semester.
Dalam rangka menyiapkan pameran para siswa dapak mendiskusikannya di kelas dengan pengawasan atau bimbingan guru mata pelajaran. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka menyiapkan pameran kelas atau pun pameran sekolah antara lain:
1.       Membentuk kepanitiaan pameran.
2.       Mempersiapkan karya yang akan dipamerkan.
3.       Mempersiapkan tempat pameran.
4.       Menyiapkan publikasi dan dokumentasi.
5.       Mengklasifikasi hasil karya siswa yang akan dipamerkan.
6.       Memperbaiki atau membuat karya-karya yang akan dipamerkan
7.       Mempersiapkan perangkat pendukung pameran.
8.       Kegiatan lain yang diperlukan.

           D.  Menata karya seni kriya buatan sendiri dalam bentuk pameran di kelas atau di sekolah
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam menata karya di dalam ruang pameran antara lain:
1.    Penempatan karya dua dimensi diatur rata atas atau rata bawah.
2.    Penempatan karya tiga dimensi diatur berdasarkan ukuran, misalnya besar atau berat di bawah, sedangkan yang kecil atau ringan di atas.
3.    Pengaturan hiasan diusahakan jangan sampai benda-benda hiasan mendominasi ruang pameran.
4.    Pengaturan cahaya dilakukan sedemikian rupa sehingga cahaya mengenai karya dengan baik.
5.    Pengaturan jenis atau volume music dalam ruang pameran dilakukan agar mendukung suasana pameran menjadi lebih baik.

E.       Tugas Mandiri
1.       Tugas mandiri terstruktur
       1.       Menggambar denah pameran (individual).
       2.       Membuat karya (tambahan), atau memperbaiki karya untuk pameran (individual).
       3.       Membuat susunan kepanitiaan (kelompok).

2.       Tugas mandiri tak terstruktur
       1.       Membuat karya (tambahan), atau memperbaiki karya untuk pameran (individual).
       2.       Mengunjungi pameran (kelompok).